Merawat Damai di Era Dunia yang Retak
Sepekan pelatihan di Afrika Selatan mengubah cara seorang pemuda gereja memaknai perdamaian — dari sekadar ketiadaan konflik menjadi panggilan yang menuntut keberanian.
oleh: Berkat Telaumbanua
Berkat Telaumbanua berdiri cukup lama di depan deretan foto hitam-putih di Hector Pieterson Museum, kawasan Soweto, Afrika Selatan. Gambar-gambar itu merekam peristiwa 1976, ketika ratusan pelajar kulit hitam turun ke jalan menuntut keadilan dan sebagian dari mereka roboh ditembak aparat. Ia mengaku merinding ketika menatapnya. “Di sana saya seperti mengalami sebuah pertemuan yang sangat manusiawi dengan realitas ketidakadilan,” tuturnya.
Namun, di tempat yang sama, Berkat menangkap kesan lain yang tidak kalah kuat. Ia melihat jejak sebuah generasi muda yang dahulu menolak tunduk pada penindasan. Dua kesan yang berlawanan itu — kepedihan sekaligus keberanian — menyatu dalam satu ruangan dan ikut mengubah cara pandangnya tentang arti damai.
Berkat adalah perwakilan pemuda Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), gereja beraliran Lutheran dari Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Pada 20–25 April 2026, ia mengikuti Peace Messengers Training 2026 di Johannesburg, Afrika Selatan. Pelatihan tahunan itu diselenggarakan Lutheran World Federation (LWF) melalui sayap kepemudaannya, LWF-Youth.
Kegiatan tersebut diikuti 30 anak muda yang lolos seleksi ketat dari 23 negara anggota gereja LWF. Mereka berasal dari lima kawasan dunia: Afrika, Asia, Eropa, Amerika Latin dan Karibia, serta Amerika Utara. Program ini bertujuan memperlengkapi kaum muda dengan keterampilan membangun perdamaian (peacebuilding) dan resolusi konflik di berbagai konteks kehidupan.
Berkat mengungkapkan, pelatihan tidak berhenti pada keterampilan teknis. Kegiatan itu turut menekankan pembangunan perdamaian yang berakar pada teologi Lutheran dan nilai-nilai spiritual Kristen. Pada hari-hari awal, ia mengaku sempat gugup berada di tengah peserta dari begitu banyak bangsa.
Belajar dari Luka Sejarah
Selama sepekan, peserta tidak hanya duduk di ruang kelas. Berkat memaparkan, agenda pelatihan memadukan ibadah bersama, pendalaman teologi tentang tugas sebagai “pembawa damai”, diskusi kelompok, presentasi, serta kunjungan lapangan. Bagian terakhir itulah, menurut dia, yang paling membekas.
Rombongan menyusuri sejumlah situs bersejarah di Johannesburg. Selain Soweto dan Hector Pieterson Museum, mereka mengunjungi rumah Nelson Mandela, Constitution Hill, dan Apartheid Museum. Tempat-tempat itu merekam sejarah panjang apartheid, sistem pemisahan ras yang pernah mencabik Afrika Selatan.
Menapaki jejak sejarah itu menimbulkan perasaan campur aduk. “Saya sedih melihat realitas ketidakadilan masa lalu, tetapi di sisi lain saya takjub pada keberanian generasi muda pada zaman itu,” ujar Berkat. Dari pengalaman tersebut, ia berpendapat, gereja dan kaum muda semestinya memiliki suara yang jelas untuk membela kelompok yang terpinggirkan.
Damai sebagai Kata Kerja
Pelatihan itu, kata Berkat, menjungkirbalikkan satu keyakinan lama. Dahulu ia memahami damai semata-mata sebagai kondisi tenang tanpa konflik. Kini ia menilai pemahaman itu terlalu sempit.
“Damai yang sejati bukan sekadar tidak ada perang,” ungkapnya. Ia menambahkan, perdamaian yang sesungguhnya adalah tindakan aktif — keberanian untuk mendengarkan mereka yang berbeda, membangun jembatan dialog, dan merangkul sesama tanpa syarat.
“Damai yang sejati bukan sekadar tidak ada perang. Ia adalah keberanian untuk mendengarkan, membangun dialog, dan merangkul sesama tanpa syarat.”
Bagi Berkat, kesadaran itu sekaligus menjadi koreksi atas dirinya sendiri. Ia mengakui, berbicara tentang damai di atas mimbar atau melalui media sosial jauh lebih mudah daripada mempraktikkannya. Di ruang pelatihan, egonya benar-benar diuji saat ia harus bekerja sama dengan peserta yang berbeda budaya, bahasa, karakter, dan cara berpikir.
Dari pergumulan itu, ia memetik satu pelajaran penting. “Keberagaman bukanlah penghalang, melainkan sarana yang memperkaya cara pandang kita,” tuturnya. Syaratnya, Berkat menegaskan, adalah kesediaan untuk berpikir terbuka (open-minded) terhadap perbedaan.
Estafet Lintas Generasi
Pemaknaan itu sejalan dengan pesan yang berulang kali ditegaskan pimpinan program. Savanna Sullivan, ketua program Peace Messengers, mengingatkan bahwa pembangunan perdamaian merupakan tanggung jawab lintas generasi. Damai, menurut dia, tidak dapat dipisahkan dari keadilan, pemulihan (healing), dan keberanian melawan diskriminasi.
Tanggung jawab itu tidak berhenti ketika pelatihan usai. Berkat memaparkan, setiap peserta diwajibkan membawa pulang satu misi, yaitu mengembangkan proyek perdamaian nyata di lingkungan gereja, masyarakat, atau negara masing-masing, dengan dukungan LWF-Youth. Ia menyebut tugas itu sebagai estafet pelayanan yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kepada sesama generasi muda Kristen, Berkat menyampaikan ajakan. Ia menilai dunia saat ini tengah lelah oleh perpecahan dan membutuhkan lebih banyak anak muda yang berani menjadi pembawa harapan. “Jangan takut mengambil bagian sebagai agen perdamaian, mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita,” ucapnya.
Sepanjang perjalanan itu, satu ayat terus terngiang di kepala Berkat, yakni Matius 5:9: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Bagi pemuda asal Nias tersebut, foto-foto bisu di Soweto dan ayat itu kini menyuarakan hal yang sama. Damai bukanlah warisan yang diterima dalam keadaan selesai, melainkan kata kerja yang harus terus diperjuangkan — bahkan, dan justru, ketika dunia sedang retak.
No Comment! Be the first one.