Dari Johannesburg ke Hati: Refleksi Menjadi Utusan Perdamaian di South Africa
oleh: Berkat Telaumbanua
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.“
(Matius 5:9)
Kalimat di atas terus bergema di kepala saya sepanjang perjalanan di South Africa, 20–25 April 2026 lalu. Bersama 30 anak muda dari 23 negara anggota Lutheran World Federation (LWF), saya berkesempatan mengikuti Peace Messengers Training 2026. Kami datang dari latar belakang yang sepenuhnya berbeda—Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Amerika Latin—namun membawa satu gelisah yang sama: bagaimana menghadirkan damai di dunia yang sedang retak?
Menyusuri Luka Sejarah di Soweto
Bagi saya, pembelajaran terbesar justru lahir ketika kami keluar dari ruang kelas dan berjalan menyusuri jalanan Johannesburg. Kami mengunjungi Soweto dan berdiri di Hector Pieterson Museum, tempat yang merekam keberanian sekaligus kepedihan para pelajar kulit hitam yang melawan apartheid pada tahun 1976.
Melihat rumah masa lalu Nelson Mandela dan menyusuri Constitution Hill membuat saya merinding. Di sana, saya melihat sebuah ‘pertemuan yang sangat manusiawi’ dengan realitas ketidakadilan. Namun di tempat yang sama, saya melihat bagaimana sebuah generasi menolak untuk tunduk pada penindasan.
Dari sana saya berefleksi, di mana posisi gereja dan anak muda saat ketidakadilan terjadi? Seperti yang diingatkan oleh ketua program kami, Savanna Sullivan, perdamaian tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan bergandengan tangan dengan keadilan, pemulihan (healing), dan keberanian untuk menolak diskriminasi.
Damai Itu Bukan Sekadar “Tidak Ada Perang”
Selama ini, kita sering berpikir bahwa damai adalah kondisi tenang tanpa konflik. Namun, perjalanan ini menjungkirbalikkan pemikiran itu. Damai yang sejati adalah kata kerja—ia aktif. Damai adalah keberanian untuk mendengarkan mereka yang berbeda, membangun jembatan dialog, dan merangkul sesama tanpa syarat.
Tentu saja, ini adalah tamparan bagi diri saya sendiri. Berbicara tentang damai di atas mimbar atau media sosial itu mudah, namun mempraktikkannya saat berhadapan dengan perbedaan karakter, budaya, dan pola pikir di ruang pelatihan adalah cerita yang berbeda. Saya disadarkan akan banyak kelemahan ego saya. Namun, keragaman di pelatihan itu justru mengajar saya bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan pembatas.
Sebuah Estafet Panggilan
Program Peace Messengers tidak berhenti saat kami menerima sertifikat. LWF-Youth mendorong kami semua untuk pulang ke negara masing-masing dan memulai proyek perdamaian nyata di akar rumput. Ini adalah estafet tanggung jawab lintas generasi.
Dunia saat ini sedang lelah dengan konflik. Karena itu, saya ingin mengetuk hati sesama generasi muda Kristen: mari keluar dari zona nyaman. Jangan takut menjadi pembawa harapan.
Sebelum Anda menutup halaman browser ini, mari sejenak merenungkan dua hal:
- Sudahkah kita menjadi pembawa damai di lingkungan terkecil kita hari ini?
- Bagaimana kita bisa menghadirkan kasih Allah secara nyata kepada mereka yang berbeda pandangan dengan kita?
No Comment! Be the first one.